Komitmen Jazz Gunung Indonesia dalam mengusung napas beyond jazz pada setiap perhelatannya kian mempertegas bahwa festival ini bukan sekadar panggung hiburan musik semalam. Memasuki rangkaian sepekan penuh BRI Jazz Gunung Bromo 2026 yang akan bergulir pada 18 Juli hingga 25 Juli 2026 mendatang, dimensi ruang apresiasi festival diperluas secara radikal melalui perkawinan multidisiplin seni.
Salah satu pilar penting yang dihadirkan untuk memperkaya sensibilitas para Jamaah Al-Jazziyah tahun ini adalah ruang pameran seni eksklusif. Menjadi jembatan visual yang menantang kedalaman berpikir pengunjung, berikut adalah rilis kuratorial resmi mengenai pameran tersebut yang ditulis langsung oleh sang kurator, Mikke Susanto:
VISUAL ART EXHIBITION
BROMO: A LANDSCAPE OF SIGNS
Jiwa Jawa Resort Bromo, 18 Juli – 31 Agustus 2026
Pameran seni rupa “Bromo: A Landscape of Signs” berangkat dari pemahaman bahwa Gunung Bromo melampaui lanskap vulkanik atau destinasi wisata. Telah lama Bromo menjadi medan reproduksi makna dan wacana melalui sejarah visual, mitologi lokal, ingatan kolektif, dan pengalaman estetik.
Secara visual, Bromo telah lama hadir sebagai citra sublim: kabut, lautan pasir, kawah, dan horizon pegunungan dengan savana menjadi sumber eksplorasi visual yang mempertemukan romantisisme alam, spiritualitas, hingga pencarian identitas lanskap Nusantara. Namun dalam pameran (dan juga agenda Jazz Gunung) ini, Bromo perlu dibaca bukan hanya sebagai objek representasi atau latar belakang kegiatan, melainkan sebagai “tanda” yang membuka tafsir tentang hubungan manusia, alam, dan kekuasaan di tengah perubahan zaman.
Di sisi lain, kehidupan masyarakat sekitar Bromo—khususnya komunitas Tengger dan lingkungan yang lebih luas lagi—memperlihatkan bagaimana ruang ekologis selalu terkait dengan sistem sosial, ritus budaya, ekonomi wisata, dan negosiasi identitas. Lanskap yang tampak indah bagi wisatawan sesungguhnya menyimpan persoalan kompleks mengenai perubahan lingkungan, eksploitasi sumber daya, komodifikasi budaya, hingga ketimpangan akses ekonomi.

Dalam konteks ini, praktik artistik menjadi penting sebagai medium pembacaan kritis terhadap politik kebudayaan yang bekerja di kawasan Bromo: siapa yang memperoleh keuntungan dari citra alam, siapa yang menjaga keberlangsungan ekologinya, dan siapa yang perlahan tersingkir oleh industri pariwisata maupun kebijakan pembangunan. Karya seni berupa musik, lukisan, fotografi, dan karya kreatif lainnya dalam agenda ini berupaya menghadirkan kembali lapisan-lapisan realitas tersebut melalui pendekatan visual, audio, material, arsip, dan pengalaman ruang.
Di sisi lain pameran ini memposisikan seniman bukan semata sebagai pencipta objek estetik, tetapi lebih dari itu, yakni sebagai pembaca zaman yang merekam tanda-tanda perubahan sosial dan ekologis. Melalui karya-karya yang dipamerkan dan diperdengarkan, kita diajak untuk merespons Bromo sebagai ruang hidup yang terus diperebutkan dalam dialektika oposisi biner: antara sakralitas dan industri wisata, antara konservasi dan eksploitasi, antara memori budaya dan tekanan kapital.
Lebih jauh, pameran ini juga diharapkan menjadi refleksi bagi masyarakat di luar kawasan Bromo agar semakin menyadari pentingnya pelestarian lingkungan, keberlanjutan ekologi, dan tanggung jawab bersama terhadap masa depan alam Indonesia. Dengan demikian, “Bromo: A Landscape of Signs” menjadi ruang refleksi lintas wilayah dan estetika tentang bagaimana seni berperan membangun kesadaran kritis terhadap lanskap, masyarakat, dan keberlanjutan kehidupan di tengah krisis lingkungan global yang ganas dan agresif.
Mikke Susanto
Kurator Pameran Seni Rupa “Bromo: A Landscape of Signs”
Melalui pemaparan kuratorial di atas, kita disadarkan bahwa setiap sudut keindahan Bromo menyimpan narasi kehidupan, ritus budaya, dan dinamika sosial yang sangat berharga untuk dijaga kelestariannya. Kesadaran kritis yang dibangun lewat seni ini berjalan selaras dengan upaya pemberdayaan ekonomi riil yang disiapkan di area festival melalui kehadiran Pasar Karya Lokal. Ruang bazaar terintegrasi ini menjadi panggung bagi karya kreatif, cinderamata kriya etnik, hingga kuliner hangat buatan para pelaku UMKM lokal Probolinggo dan Jawa Timur.
Pengalaman menyelami refleksi visual pameran serta menikmati performa musik berkelas internasional dari Isyana Sarasvati, Bilal Indrajaya, hingga supergroup Indra Lesmana LLW di Amfiteater Bromo dipastikan akan berjalan semakin sempurna berkat dukungan digital dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) selaku Official Banking Partner.
Untuk mempermudah mobilitas finansial nirsentuh (cashless) di area pegunungan, penonton didorong penuh menggunakan aplikasi super-app BRImo. Selain praktis digunakan untuk bertransaksi via QRIS di Pasar Karya Lokal dengan keuntungan potongan langsung hingga 20%, aplikasi BRImo juga merupakan kunci utama untuk mengamankan tiket festival dengan harga khusus melalui program kerja sama perbankan ini, Anda bisa menikmati kejutan eksklusif berupa Diskon Tiket Hingga 40% khusus untuk setiap transaksi yang menggunakan aplikasi BRImo.
Siapkan pakaian hangat terbaik Anda, pastikan saldo BRImo Anda terisi penuh, amankan tiket perjalanan Anda sekarang juga di seketiket.com, dan mari menjadi bagian dari ruang refleksi estetika terindah bersama semesta Bromo!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post