Jazz Gunung

Logo Jazz Gunung White
  • JAZZ GUNUNG SERIES
    • JAZZ GUNUNG BROMO
    • JAZZ GUNUNG SLAMET
  • ARTISTS
  • ABOUT US
  • BROMO JAZZ CAMP
  • VOLUNTEER
  • NEWS
  • LIVE REPORT
TICKETS
Logo Jazz Gunung White
  • JAZZ GUNUNG SERIES
    • JAZZ GUNUNG BROMO
    • JAZZ GUNUNG SLAMET
  • ARTISTS
  • ABOUT US
  • BROMO JAZZ CAMP
  • VOLUNTEER
  • NEWS
  • LIVE REPORT
TICKETS
Logo Jazz Gunung White
Logo Jazz Gunung White
  • JAZZ GUNUNG SERIES
    • JAZZ GUNUNG BROMO
    • JAZZ GUNUNG SLAMET
  • ARTISTS
  • ABOUT US
  • BROMO JAZZ CAMP
  • VOLUNTEER
  • NEWS
  • LIVE REPORT
  • TICKETS

Home » Kebaruan Musikalitas di Bukit Purba

Kebaruan Musikalitas di Bukit Purba

August 21, 2026
Kebaruan Musikalitas Di Bukit Purba

Kebaruan Musikalitas Di Bukit Purba

Rasanya ada yang berlawanan terjadi pada perhelatan BRI Jazz Gunung Bromo 2026. Cita musikalitas yang tersaji terasa baru tersaji lewat komposisi bernuansa modern. Rasa itu terbangun dari akar jazz yang kokoh di kawasan kaki pegunungan Bromo, area gunung berapi purba yang masih menyisakan apinya.

Api dari Gunung Bromo itu tak benar-benar padam. Ibarat sekam, ia memanaskan dan menyuburkan tanah masyarakat Tengger yang hidup di sekelilingnya. Energi itu diolah menjadi bebunyian berbasis jazz yang tersaji selama dua malam pada 24-25 Juli lalu. Ini adalah penyelenggaraan ke-18.

Sebagai sebuah perhelatan musik dan seni tahunan, Jazz Gunung Bromo boleh dibilang memasuki usia matang. Ia memiliki komunitas pengunjungnya sendiri, yang pelan-pelan telah beregenerasi sedemikian rupa. Itu membawa konsekuensi pada musik yang mereka sajikan.

Grup Ring of Fire Project, misalnya, telah main di festival ini sejak awal. Grup ini adalah inkarnasi Kua Etnika bentukan mendiang Djaduk Ferianto. Musikus asal Yogyakarta itu adalah salah satu penggagas festival ini bersama tokoh perbankan Sigit Pramono, pendiri Jiwa Jawa Resort yang menjadi tuan rumah acara ini.

Ring of Fire selalu tampil di Jazz Gunung Bromo, termasuk pada 2026 ini, atau tujuh tahun setelah Djaduk mangkat pada 13 November 2019. Setiap penampilannya, mereka berkolaborasi dengan seniman lain, seperti pemusik jazz Bintang Indrianto dan Dewa Budjana, Fariz RM, ataupun penyanyi pop Jawa Ndarboy Genk. Tahun ini, mereka tampil bareng pianis Sri Hanuraga dan pemain drum asal Italia, Simone Prattico.

Kolaborasi ini cukup menarik. Domisili ketiga entitas ini terpisah-pisah; Ring of Fire aktif di Yogyakarta, Sri Hanuraga di Jakarta, dan Prattico di Roma. Latar belakang musik masing-masing pun berbeda. Ring of Fire mengemban identitas kolektif musik etnik, Sri Hanuraga pianis jazz, dan Simone banyak menulis komposisi ritmik berlanggam Mediterania atau Latin.

Kelompok Bromo Jazz Camp Terbentuk Dari Pendaftaran Musisi Jazz Muda
Kelompok Bromo Jazz Camp terbentuk dari pendaftaran musisi jazz muda. Mereka berlatih intensif dibimbing mentor Sri Hanuraga, Kevin Yosua, dan Nesia Ardi sebelum tampil pada Jumat (31/7/2026). KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Salah satu nomor yang mereka mainkan adalah ”Simpul”, hasil komposisi Aga—nama panggilan Sri Hanuraga. Melodi pada lagu ini menonjol dari bunyi piano, tetapi berkelindan dengan nada-nada pukulan bonang dan saron. Langgam dari perangkat gamelan itu kadang bernuansa Jawa yang membuai, tetapi menyisipkan nuansa gamelan Bali yang lebih riuh. Langgam Nusantara ini berjalan harmonis dengan citra jazz dari dunia utara sana. Sah dibilang, ”Simpul” adalah benang merah kolaborasi itu—pertemuan tiga simpul entitas.

Lagu lainnya adalah katalog lama ciptaan Djaduk Ferianto berjudul ”Pesisir”. Di nomor ini, perkusi dari kendang terdengar dominan. Tiupan suling yang tenang mengukuhkan nuansa pantai di daerah tropis. Permainan drum Prattico terdengar rumit, tetapi tanpa ambisi mendominasi. Dia membiarkan kendang, suling, dan piano berjejalin di malam bersuhu sekitar 10 derajat celsius itu.

Pemain Drum Asal Italia, Simone Prattico
Pemain drum asal Italia, Simone Prattico, tampil dalam kolaborasi bareng Ring of Fire dan Sri Hanuraga di hari pertama BRI Jazz Gunung Bromo, Jumat (24/7/2026). Penampilan mereka membuktikan kolaborasi tiga lokasi; Hanuraga di Jakarta, Ring of Fire di Yogyakarta, dan Prattico di Roma, mampu menghasilkan lagu-lagu yang seru. KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Seusai pentas, Danny Eriawan, pemain bas Ring of Fire Project, meriung bersama kawan-kawannya di tepi pepohonan pinus dekat perapian ditemani keretek. Air mukanya berseri-seri. Embusan angin penambah dingin tak melipat senyumnya. Tanpa ditanya, dia terlihat puas atas penampilan barusan.

”Mudah-mudahan kami bisa mendokumentasikan karya baru dalam bentuk rekaman,” kata Danny. ”Kolaborasi ini menyenangkan. Memang ada banyak penyesuaian dengan kehadiran Aga yang aransemen komposisinya cenderung pianistik. Dia mengambil nada dasar menyesuaikan nada gamelan. Wah, kalau ada waktu lebih, pasti lebih banyak eksplorasi bunyi yang lebih detail,” lanjutnya.

Grup Etnik Ring Of Fire Bentukan Mendiang Djaduk Ferianto
Grup etnik Ring of Fire bentukan mendiang Djaduk Ferianto berkolaborasi dengan pianis Sri Hanuraga di BRI Jazz Gunung Bromo pada Jumat (24/7/2026). Dua entitas ini memainkan dua nomor baru gagasan Hanuraga yang cenderung pianikal. Itu beriringan dengan karakter Ring of Fire yang cenderung ritmikal. KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Kolaborasi itu, kata Aga, mulai diobrolkan sejak Maret, atau sekitar empat bulan sebelum pertunjukan. Perbincangan lintas kota dan negara itu terjalin lewat sambungan video, membicarakan aransemen dan komposisi. Obrolan lebih intens terjadi tiga minggu sebelum tampil. ”Latihan bareng cuma dua kali, tetapi menyenangkan,” ucap Danny.

”Seru, sih, kolaborasi ini. Waktunya agak kurang saja,” kata Aga. Memadukan musik etnik dengan jazz, kata dia, tak semata menempel instrumen tradisi seperti kendang atau saron pada langgam jazz. Setiap unsur tak boleh mendominasi agar tak terjebak dalam pencaplokan budaya, lantas berlindung dalam terminologi world music.

Menurut Aga, kultur jazz telah kukuh berdiri dari tradisi bermusik afro-amerika. Itu sama kuatnya dengan kultur musik gamelan di Nusantara. Karena sama-sama berakar panjang, memadukan dua kutub itu bukan perkara mudah.

Kolaborasi Ring Of Fire Project Pada Bri Jazz Gunung Bromo
Kolaborasi Ring of Fire Project pada BRI Jazz Gunung Bromo mempertemukan musisi dari Yogyakarta, Jakarta, dan Roma (Italia). Mereka tampil pada Jumat (31/7/2026). KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

“Perlu menelisik masing-masing kultur, berinteraksi lebih lama. Memang (kolaborasi) seperti ini tidak bisa instan. Tapi ini langkah awal yang baik,” kata Aga. Kompleksitas itu, kata dia, membuat tak banyak komposer mengakurkan etnik dan jazz secara solid. Padahal, warna etnik adalah identitas penting di festival jazz Indonesia, seperti seri Jazz Gunung ini.

Tantangan itu yang kini diemban Aga dan Bagas Indyatmono, Direktur Jazz Gunung Indonesia, sebagai kurator festival. “Memadukan jazz dengan unsur Nusantara itu adalah perjalanan panjang. Itu perlu program inkubasi yang membutuhkan waktu dan orang yang tepat. Ada banyak elemen Nusantara yang siap diolah,” lanjut Aga, kali ini sebagai kurator.

Cita rasa lain dari penampilan Ring of Fire Project adalah salah satu acuannya. Tapi festival ini tak melulu berbicara soal “jazz etnik”. Corak itu salah satu identitas yang hendak dipertahankan. Namun, sebagai festival, Jazz Gunung Bromo yang sudah bertahun-tahun digelar itu perlu menampilkan juga bentuk-bentuk jazz yang modern.

Bagas, misalnya, terpukau pada band Plutato yang dia tonton di sebuah konferensi musik di Taiwan dua tahun silam. Selera musiknya cocok dengan corak elektronika pada jazz yang dimainkan Justin Liao pada saksofon, Will (kibor), Chia Fa (drum), dan Sujong Park (bas), serta diimbuhi vokal dari Cait Lin. Mereka warga negara Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan-Australia.

Saksofonis Justin Liao Dari Grup Plutato Asal Taiwan
Saksofonis Justin Liao dari grup Plutato asal Taiwan diajak berkolaborasi impromptu dengan trio Batavia Collective pada Jumat (24/7/2026). Kolaborasi ini menghasilkan citra jazz yang lebih metropolitan bercorak disko dan dikuatkan semburat lampu berkontras tinggi. KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Plutato tampil Jumat (31/7/2026) sore ketika matahari masih bersinar hangat dengan latar belakang punggung bukit terekspos sempurna. Langit juga terbuka luas menampilkan bulan yang nyaris penuh. Suasana sedemikian seperti menguatkan kesan musik mereka turun dari angkasa luas; penuh bebunyian sintetis berpadu dengan saksofon tradisional.

Nama bandnya saja berasal dari gabungan kata Planet Pluto dan potato (kentang). Lagu-lagu yang mereka bawakan seperti ”Woman Crosses the Street” dan “Syzgy” terdengar eksperimental. Jazz standar mereka ibarat batang pohon yang dililiti musik electronica, post-rock, dan R&B.

Itu makin gamblang pada interpretasi ulang lagu “Nardis” ciptaan Miles Davis, nomor paling hip dalam katalog jazz standar AS keluaran 1958. Mereka meraciknya dengan imbuhan “Everything in Its Right Place” dari Radiohead keluaran tahun 2000 yang cenderung electronica itu. Dua keping lagu beda masa itu nyambung.

Grup Plutato Yang Terbentuk Di Taiwan Bereksperimen Dengan Bebunyian Sintetis
Grup Plutato yang terbentuk di Taiwan bereksperimen dengan bebunyian sintetis pada musik jazz besutan mereka. Grup ini adalah salah satu yang mewarnai perhelatan BRI Jazz Gunung Bromo tahun 2026 dengan komposisi mendobrak pakem. KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Apakah itu bentuk masa depan jazz yang hendak mereka pertontonkan kepada komunitas Jazz Gunung Bromo yang sebagian besar berdomisili di Jawa Timur itu? ”Bukan begitu. Jazz modern mungkin banyak terdengar dari London atau Berlin. Tapi masa depan jazz adalah kebebasan berekspresi dengan bentuk-bentuk baru. Kalian punya banyak musik tradisi yang bisa mewarnai jazz ke depan,” kata Will yang terlihat seperti kutu buku ini.

Pernyataan itu seperti menegaskan ucapan Aga. Ruang kemungkinan mengeksplorasi jazz masih terbuka lebar. Trio Batavia Collective dari Jakarta bermain sebebas mungkin dengan bentuk jazz yang mendekati electronic dance music (EDM), musik disko yang disuburkan kultur pesta di sudut-sudut Jakarta. Ada juga band Ali yang memainkan rock bernuansa padang pasir.

Keragaman corak jazz dan seputarnya seolah dirangkum Indra Lesmana yang tampil berformat grup LLW. Pondasi dari grup ini adalah fusi berbagai corak. Indra leluasa memadukan jazz dengan hiphop pada lagu ”Reborn” dan ”Stretch N Pause” yang menghadirkan raper KY. Dia juga menggila dengan keytar pada lagu ”Love Life Wisdom” yang memberi ruang improvisasi gila-gilaan untuk basis Barry Likumahuwa bersolo dan Rafi Muhammad meningkahi dengan ketukan drum yang janggal.

Nomor ”Freedom Jazz Dance” patut digarisbawahi dari set penampilan Indra dan kawan-kawan pada malam itu. Rapper KY menyebut tokoh-tokoh jazz Nusantara dalam repetan cepatnya. Itu mengukuhkan bahwa tokoh legendaris yang disebut seperti Ismail Marzuki, Sam Saimun, dan Jack Lesmana membentuk identitas jazz dari Indonesia seperti sekarang, merentang dari paduan etnik, rock, pop, hingga hip-hop.

Bentuk kebaruan semacam itulah yang diemban penyelenggara Jazz Gunung Indonesia memanggungkan di pegunungan purba. Eksplorasi direntang sejauh mungkin tanpa kehilangan jiwanya.

Sejauh ini, dua ribuan penonton tampak bisa mengapresiasi bentuk kontemporer itu. Mereka masih mau datang dari tempat jauh; baik demi musik, atau eksotisme bentang alamnya, bisa juga kedua-duanya. Kalau pun tidak terlalu kenal dengan artisnya, mereka masih bisa berekspresi dengan dandanan berjaket tebal layaknya turis ke Swiss. Itulah serunya Jazz Gunung Bromo.

Kompas id

Kompas.id adalah surat kabar nasional Indonesia di bawah naungan PT Kompas Media Nusantara

Related Posts

Harian Disway 25 Juli 2026

Harmoni Luluhkan Bediding

by Harian Disway
July 27, 2026

 Berbagai jenis musik silih berganti. Mewarnai gelaran BRI Jazz Gunung Bromo 2026 hari ketujuh, 24 Juli 2026. Ajang...

Jazz, Tapi ”party”

Jazz, tapi ”Party”

by Kompas id
July 27, 2026

Festival BRI Jazz Gunung Bromo mengentak dengan musik-musik berlanggam ”aneh” yang biasa terdengar di kelab malam atau diskotik. Nuansa...

Malam Terakhir Jazz Gunung Bromo 2026, Hip Hop Bikin Penonton Menggila

Malam Terakhir Jazz Gunung Bromo 2026, Hip Hop Bikin Penonton Menggila

by Jazz Gunung Indonesia
July 27, 2026

 Dentuman musik jazz dan hip-hop yang dibawakan Indra Lesmana bersama Eva Celia, Teza Sumendra, serta sejumlah musisi lainnya...

BRI Jazz Gunung Bromo 2026 Sukses Sedot Penonton, UMKM Ikut Terdongkrak

BRI Jazz Gunung Bromo 2026 Sukses Sedot Penonton, UMKM Ikut Terdongkrak

by Jazz Gunung Indonesia
July 26, 2026

 Digelar di Amphitheater Jiwa Jawa Resort Probolinggo, festival tahunan ini menawarkan pengalaman menikmati musik jazz di ketinggian, dengan...

RRI Pro 2 Malang Ulas Kesiapan H 1 Jelang BRI Jazz Gunung Bromo 2026

RRI Pro 2 Malang Ulas Kesiapan H-1 Jelang BRI Jazz Gunung Bromo 2026

by Jazz Gunung Indonesia
July 23, 2026

 Menjelang pembukaan panggung utama BRI Jazz Gunung Bromo 2026 pada 24–25 Juli esok, dinamika persiapan di kaki Gunung...

Semangat Menghidupkan Jiwa Etnik Di BRI Jazz Gunung Bromo 2026

Mengintip Dapur Ide Kultural: Semangat Menghidupkan Jiwa Etnik di BRI Jazz Gunung Bromo 2026

by KLCBS Bandung
July 20, 2026

 Seni tidak pernah lahir dari ruang kosong. Di balik megahnya sebuah pagelaran kultural, selalu ada narasi panjang, keringat...

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris Bersama Founder Jazz Gunung Indonesia Sigit Pramono di Amphiteater Seruni Point Kecamatan Sukapura. (Foto : Prokopim)

Jazz Gunung dan Bromo Sunset Music and Culture Perkuat Pariwisata dan Budaya Kabupaten Probolinggo

by Pemkab Probolinggo
July 19, 2026

Jazz Gunung Series Bromo Sunset Music and Culture Vol. 3 kembali menjadi panggung kolaborasi seni, budaya dan pariwisata di...

Festival Musik BRI Jazz Gunung Series 2026 Hadirkan Pengalaman Jazz Di Atas Pegunungan

BRI Jazz Gunung Series 2026 Siap Digelar, Konsisten Sajikan Festival Jazz Berkelanjutan

by Kompas id
June 19, 2026

Dari sekian banyak festival jazz di Indonesia, Jazz Gunung mungkin bukan yang paling ambisius untuk menggaet sebanyak mungkin penonton....

Jazz Poros Tengah Bergaung Di Gunung

Jazz Poros Tengah Bergaung di Gunung

by Kompas id
August 10, 2025

Awal Juli lalu jagat media sosial dihebohkan dengan polemik ”Festival Jazz yang Enggak Nge-Jazz” yang dilontarkan musisi jazz kenamaan...

Nonton Jazz Gunung Series 3 Ijen 2025

Nonton Jazz Gunung Series 3 Ijen 2025: Musik Syahdu & View Nendang, Bikin Hati Tenang!

by Tribun News
August 10, 2025

Hujan gerimis menambah kesan pegunungan kian kental di tengah penampilan sejumlah musisi jazz dalam gelaran Jazz Gunung Ijen 2025...

Discussion about this post

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jazz Gunung (@jazzgunung)

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jazz Gunung (@jazzgunung)

Jazz Gunung Bromopedia
Videos Photo Gallery Press & Media Program Guide

MEMBER OF

Forum Jazz Indonesia

ORGANIZED BY

Jazz Gunung Indonesia
FOLLOW US ON CONTACT US
COPYRIGHT © 2026 JAZZ GUNUNG INDONESIA. All Rights Reserved.
imunify-bot-check 7616
No Result
View All Result
  • JAZZ GUNUNG SERIES
    • JAZZ GUNUNG BROMO
    • JAZZ GUNUNG SLAMET
  • ARTISTS
  • ABOUT US
  • BROMO JAZZ CAMP
  • VOLUNTEER
  • NEWS
  • LIVE REPORT
  • TICKETS

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.