Di tengah hiruk-pikuk persiapan panggung utama amfiteater pada Jumat (24/7/2026) sore, sebuah ruang refleksi yang sunyi namun sarat makna resmi dibuka bagi publik. Berlokasi di galeri area bawah Belanga Resto, Jiwa Jawa Resort Bromo, pembukaan pameran seni rupa bertajuk BROMOPEDIA – “Bromo: A Landscape of Signs” menjadi penanda penting komitmen beyond jazz yang diusung oleh Jazz Gunung Indonesia.
Sesi peresmian ini dihadiri oleh puluhan rekanan media partner nasional dan lokal, kurator, seniman, hingga para pengunjung Jama’ah Al-Jazziyah yang ingin mengeksplorasi dimensi estetika visual sebelum menikmati alunan musik di amfiteater.
Bromo Sebagai “Tanda”: Membedah Kurasi Mikke Susanto
Dikuratori langsung oleh akademisi dan kurator seni kenamaan Dr. Mikke Susanto, pameran ini berangkat dari sebuah pemikiran kritis: bahwa Gunung Bromo melampaui sekadar destinasi wisata atau keagungan lanskap vulkanik semata.
Selama bertahun-tahun, Bromo kerap dihadirkan sebagai citra sublim—kabut, lautan pasir, kawah, dan horizon savana yang memikat romantisasi wisatawan. Namun, melalui BROMOPEDIA, Bromo diajak untuk dibaca sebagai sebuah “tanda” (sign)—sebuah ruang dialektika yang merekam hubungan kompleks antara manusia, alam, ritus budaya, hingga tekanan industri pariwisata.
“Dalam pameran ini, Bromo perlu dibaca bukan hanya sebagai objek representasi atau latar belakang kegiatan, melainkan sebagai ‘tanda’ yang membuka tafsir tentang hubungan manusia, alam, dan kekuasaan di tengah perubahan zaman,” ungkap Mikke Susanto dalam catatan kuratornya.
Dialektika Sosial, Sakralitas, dan Konservasi Ekologis
Melalui kurasi karya visual, fotografi, instalasi material, hingga arsip audio-visual yang dipajang di area pameran, seniman-seniman yang terlibat bertindak sebagai “pembaca zaman”. Mereka merekam persoalan sosial dan ekologis yang terjadi di balik keindahan foto-foto kartu pos Bromo.
Pameran ini menyoroti oposisi biner yang dihadapi oleh masyarakat lokal Tengger:
-
Antara Sakralitas dan Industri Wisata: Bagaimana ritus budaya adat tetap dijaga di tengah derasnya komodifikasi pariwisata.
-
Antara Konservasi dan Eksploitasi: Tantangan menjaga keberlanjutan ekologi kawasan Bromo dari tekanan pembangunan dan sampah plastik.
-
Antara Memori Budaya dan Kapital: Pembacaan terhadap siapa yang memperoleh keuntungan dari citra alam, siapa yang menjaga kelestariannya, dan siapa yang perlahan tersingkir.
Antusiasme awak media partner dan pengunjung yang memadati lokasi pada hari pertama membuktikan bahwa publik merindukan ruang apresiasi yang dalam, di mana seni tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menggugah kesadaran kritis terhadap isu lingkungan global.
View this post on Instagram
Hadirnya BROMOPEDIA melengkapi ekosistem festival BRI Jazz Gunung Bromo 2026. Setelah diajak berefleksi di galeri bawah Belanga Resto, pengunjung dapat melangkah menuju Pasar Karya Lokal untuk merasakan langsung denyut ekonomi warga Tengger melalui produk UMKM, kriya etnik, dan sajian kuliner hangat.
Pengalaman berbudaya ini semakin seamless berkat dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Seluruh transaksi di area festival dan pameran memanfaatkan kemudahan nontunai (QRIS) melalui aplikasi BRImo.
-
Promo Eksklusif Edukasi & Seni: Bagi civitas akademika (mahasiswa dan dosen), kunjungan ke pameran BROMOPEDIA sebelum pukul 15.00 WIB menjadi salah satu akses untuk mendapatkan apresiasi khusus berupa potongan harga tiket hingga 50%.
-
Kemudahan Transaksi: Pembelian karya seni, suvenir resmi festival, hingga transaksi makanan dapat dilakukan cepat dan aman tanpa perlu memegang uang tunai di tengah hawa dingin pegunungan.
Informasi Kunjungan Pameran & Akses Booklet Digital
Bagi Anda yang tengah berada di kawasan Bromo atau ingin mempelajari konteks kuratorial pameran secara lebih komprehensif, pameran seni rupa ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi secara gratis:
-
Lokasi Pameran: Galeri Area Bawah Belanga Resto, Jiwa Jawa Resort Bromo
-
Periode Pameran: 18 Juli – 31 Agustus 2026
-
Waktu Operasional: 09.00 – 21.00 WIB
-
Program Guide Booklet Digital: Untuk membaca panduan pameran, profil seniman, dan katalog karya lengkap anda dapat langsung mengakses situs resmi di jazzgunung.com/bromopedia-a-landscape-of-signs/.
Jangan lewatkan kesempatan untuk memperkaya pengalaman Anda di Bromo. Sempatkan melangkah ke bawah Belanga Resto, resapi setiap tanda visual yang dihadirkan, dan jadilah bagian dari masyarakat yang peduli akan kelestarian budaya dan alam Nusantara!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post