Ketika kabut tebal perlahan turun menyelimuti lereng Jiwa Jawa Resort Bromo di ketinggian 2.000 mdpl, hawa dingin yang menembus kulit seketika luluh oleh kehangatan nada. Pada Jumat (24/7/2026) sore, pagelaran hari pertama BRI Jazz Gunung Bromo 2026 resmi bergulir, menghadirkan ribuan Jama’ah Al-Jazziyah yang datang dari berbagai penjuru nusantara dengan balutan jaket tebal, syal khas pegunungan.
Edisi ke-18 festival etno-jazz terkemuka ini tak sekadar menyajikan selebrasi musik di atas awan, melainkan sebuah simfoni utuh yang menyatukan eksplorasi arsitektur bambu “Resonansi”, denyut ekonomi warga lokal Tengger, hingga kemudahan ekosistem digital finansial modern.
Senja Pertama: Regenerasi Bromo Jazz Camp dan Eksotika Koto Taiwan
Pukul 14.15 WIB, pintu Amfiteater dibuka. Panggung sore diawali oleh deretan talenta muda Bromo Jazz Camp. Penampilan mereka menjadi bukti nyata konsistensi Jazz Gunung dalam merawat masa depan musik jazz Indonesia melalui pendidikan dan panggung ekspresi yang inklusif.
View this post on Instagram
Atmosfer internasional mulai terasa saat kolektif asal Taiwan, Plutato feat. Cait Lin, mengambil alih panggung. Kolaborasi ini menyuguhkan eksperimentasi jazz-fusion unik yang memadukan dentuman musik modern dengan petikan instrumen tradisional Koto oleh Cait Lin. Alunan nada yang melayang di antara pepohonan pinus menjadi introduksi yang anggun sebelum matahari terbenam di ufuk Bromo.
View this post on Instagram
Debut Manis Bilal Indrajaya: Tembang Syahdu dan Gemuruh ‘Sing-a-Long’
Tepat pukul 16.05 WIB, momen yang dinanti publik tiba. Solois Bilal Indrajaya melangkah ke panggung untuk menjalani debut perdananya di panggung Jazz Gunung Bromo. Tampil gaya dan klimis, Bilal membawa energi retro-pop/jazz yang hangat membelah hawa dingin yang kian menusuk.
Membawakan 10 lagu pilihan—termasuk NPT, Dara, Mustahil, Akhir Pekan yang Hilang, dan Saujana—Bilal berhasil merangkul emosi penonton. Aransemen yang dibawakan khusus untuk Bromo malam itu terasa lebih bernyawa berkat sentuhan bass jazz yang dominan dan ritme yang groovy.
Klimaks penampilan Bilal pecah saat intro lagu Niscaya dibawakan. Ribuan penonton di tribun amfiteater berdiri dan bernyanyi bersama (sing-a-long), menciptakan paduan suara raksasa yang menggema di lereng gunung.
“Majestic, warm, class. Berdiri di panggung Bromo dengan sambutan hangat Jama’ah Al-Jazziyah adalah pengalaman yang luar biasa,” ujar Bilal Indrajaya mengekspresikan kesan perdananya.
View this post on Instagram
Malam Penuh Energi: Hentakan Batavia Collective & Magis ‘Ring of Fire Project’
Selepas jeda ibadah dan makan malam pukul 18.40 WIB, Batavia Collective langsung menggebrak dengan warna nu-jazz dan future-jazz yang eksplosif. Ketukan drum yang presisi dan modulasi synthesizer bertenaga terbukti efektif membuat penonton bergoyang mengusir gigilan angin malam.
Malam kian sakral pada pukul 19.40 WIB saat Ring of Fire Project naik panggung. Membawakan musik etno-jazz khas karawitan/gamelan Jawa, unit ini berkolaborasi dengan dramer kawakan asal Italia Simone Prattico dan pianis virtuoso Sri Hanuraga.
Di bawah sorotan lampu yang memantulkan keindahan latar instalasi bambu “Resonansi” karya arsitek Novi Kristinawati, dialog kultural lintas benua ini menjadi penegas bahwa musik adalah bahasa universal yang melintasi batas geografi.
View this post on Instagram
Puncak Kemegahan: Akustik Eksperimental Isyana Sarasvati
Memasuki pukul 21.05 WIB, giliran Isyana Sarasvati yang menyita perhatian penuh seluruh amfiteater. Dikenal dengan repertoar lagu bertempo tinggi dan eksplorasi progressive rock/metal, Isyana memberikan kejutan istimewa khusus untuk panggung Bromo.
Lagu-lagu berkarakter miliknya dibawakan dalam balutan aransemen akustik-jazz yang intim tanpa menghilangkan estetika teknis vokal operatiknya. Interaksi panggung Isyana yang jenaka dan energik sukses menghangatkan suasana hingga akhir pertunjukan, membuat penonton enggan beranjak hingga konser usai.
View this post on Instagram
Sisi Bisnis & Dampak Ekonomi: Transaksi Digital Cashless via BRImo dan Pasar Karya Lokal
Di luar kemegahan panggung amfiteater, BRI Jazz Gunung Bromo 2026 membuktikan komitmennya dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal. Pasar Karya Lokal dipenuhi belasan booth kuliner khas Tengger, pedagang kopi, hingga pengrajin suvenir kriya yang mendulang rezeki dari ribuan pengunjung.
Untuk memberikan pengalaman berbelanja yang nyaman di tengah cuaca dingin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menghadirkan ekosistem transaksi cashless yang seamless. Seluruh pembeli dan pedagang memanfaatkan pemindaian QRIS serta aplikasi super-app BRImo.
-
Promo & Kemudahan BRImo: Pengunjung tidak perlu repot membuka dompet atau mengeluar-masukkan uang tunai dengan tangan yang kedinginan. Cukup scan QRIS menggunakan BRImo, transaksi jual-beli makanan dan cenderamata selesai dalam hitungan detik.
-
Diskon & Benefit Finansial: Dukungan Bank BRI juga diwujudkan melalui kemudahan program promo tiket edisi khusus dan potongan harga bagi nasabah pengguna produk digital BRI.
“Kehadiran transaksi digital lewat QRIS dan BRImo di Pasar Karya Lokal tidak hanya mempermudah penonton, tetapi juga menaikkan kelas UMKM warga Bromo agar terbiasa dengan ekosistem keuangan modern,” ungkap perwakilan manajemen.
Menyambut Puncak Kemegahan di Hari Kedua (Day-2), Akankah Anda Menjadi Bagian dari Sejarah Malam Ini?
Kehangatan yang tercipta di hari pertama barulah sebuah pembuka dari simfoni besar di atas awan. Hari ini, Sabtu (25/7/2026), amfiteater siap mencapai puncak magisnya. Sederet jajaran maestro dan kolektif musik papan atas—mulai dari Indra Lesmana LLW feat. Eva Celia & Teza Sumendra, gelombang middle-eastern groove dari ALI, aksi eksplosif Watchdog (Prancis), hingga ketukan modern Littlefingers—siap melukiskan kenangan tak terlupakan di langit malam Bromo.
Jangan hanya menjadi penonton dari balik layar gadget Anda. Dinginnya angin Bromo, harum aroma pinus, dan getaran harmoni musik yang merasuk hingga ke jiwa telah menanti kehadiran Anda secara langsung di tribun amfiteater.
Tiket on-the-spot dan promo edisi khusus BRImo masih bisa Anda dapatkan secara langsung di lokasi. Siapkan jaket tebal terhangat Anda, rangkul sahabat atau insan tersayang, dan mari kita ciptakan sejarah bersama di puncak pergelaran BRI Jazz Gunung Bromo 2026 malam ini!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post