Jika Anda pernah berdiri di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, menatap panggung terbuka yang melatarbelakangi hamparan pinus dan kepulan asap Gunung Bromo, Anda tentu sadar bahwa ada sebuah keajaiban visual yang tak pernah gagal menyihir mata. Panggung itu bukan sekadar hamparan papan kayu tempat musisi berdiri, melainkan sebuah karya seni instalasi bambu yang bernapas, meliuk, dan berdialog dengan alam.
Tepat H-1 menuju pergelaran puncak BRI Jazz Gunung Bromo 2026 pada 24–25 Juli besok, cerita di balik layar kemegahan artistik tersebut terungkap. Sosok di balik mahakarya instalasi bambu ikonik ini adalah Novi Kristinawati, seorang arsitek yang telah konsisten merancang wajah panggung Jazz Gunung sejak tahun 2014.
Perjalanan 12 Tahun: Bambu sebagai Media yang Kuat Namun Lentur
Perjalanan Novi Kristinawati bersama Jazz Gunung bermula dari tawaran yang diberikan oleh budayawan legendaris Butet Kartaredjasa pada dekade lalu. Kala itu, Novi yang telah mendalami dunia arsitektur dan memiliki tim pengolahan bambu sendiri, melihat panggung alam Bromo sebagai tantangan sekaligus ruang belajar yang sangat unik.
“Bambu sebagai material memiliki karakter yang sangat menarik buat aku. Dia kuat, tapi juga lentur. Itu yang membuat aku selalu tertantang untuk bagaimana mengolahnya,” kenang Novi Kristinawati saat bercerita di latar panggung Bromo.
Bagi Novi Kristinawati, bambu bukan sekadar bahan bangunan tradisional, melainkan simbol fleksibilitas. Karakter bambu yang mampu bertahan di tengah terpaan angin kencang pegunungan namun tetap anggun meliuk adalah cerminan dari musik jazz itu sendiri: sarat struktur, namun dibebaskan oleh improvisasi.
View this post on Instagram
Konsep 2026: “Resonansi” dan Dialog Mayor-Minor
Setiap tahunnya, panggung Jazz Gunung selalu berganti wujud. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Novi Kristinawati mengeksplorasi bentuk-bentuk gigantic (raksasa), masif, dan sangat ekspresif, maka khusus di pergelaran BRI Jazz Gunung Bromo 2026, ia memilih pendekatan yang berbalik arah: lebih ringan, halus, dan kontemplatif.
Tahun ini, panggung megah tersebut mengusung tema artistik “Resonansi”.
“Tahun ini aku ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang ringan, bahkan garisnya pun antara ada dan tidak. Idenya lebih seperti ‘Resonansi’. Ini adalah bagian dari dialog mayor-minor—dialog antara yang lurus dan yang lengkung, yang tinggi dan yang rendah,” jelas Novi Kristinawati.
Secara visual, bambu-bambu runcing yang menjulang tinggi mewakili harmoni garis lurus, disandingkan dengan lengkungan anyaman bambu bertingkat yang mengalir dinamis. Filosofi ini mengambil analogi dari tangga nada musik: ada dinamika nada mayor yang tegas dan nada minor yang syahdu.
Yang paling krusial, instalasi ini dirancang dengan kerendahan hati terhadap alam. Panggung ini tidak diniatkan untuk mendominasi apalagi menguasai keindahan pegunungan Tengger, melainkan untuk beresonansi dan menyatu secara harmonis dengan lanskap sekitar.
Kehadiran instalasi berbahan dasar organik seperti bambu mempertegas brand identity BRI Jazz Gunung Bromo 2026 sebagai satu-satunya festival musik etno-jazz bertaraf internasional yang tetap menjaga nilai-nilai keberlanjutan (sustainability) dan kearifan lokal.
Dukungan berkelanjutan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menegaskan komitmen Bank BRI dalam merawat ekosistem ekonomi kreatif dan seni pertunjukan. Kolaborasi antara teknologi finansial modern (seperti kemudahan transaksi digital BRImo dan QRIS di area festival) dengan seni instalasi bambu tradisional menciptakan harmoni sempurna antara modernitas dan akar budaya.
Kini, bambu-bambu hasil guratan ide Novi Kristinawati telah berdiri kokoh membelah kabut dingin Bromo. Lampu-lampu panggung siap dinyalakan, dan deretan musisi dunia siap mengalunkan nada pertama mereka.
Bagi para Jama’ah Al-Jazziyah yang sudah mengantongi tiket, persiapkan diri Anda untuk tidak hanya mendengarkan musik berkelas, tetapi juga menikmati karya seni visual yang bergetar seirama dengan angin pegunungan.
Sampai jumpa di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo tanggal 24 & 25 Juli 2026! Mari kita merayakan indahnya harmoni di atas awan.

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post