Bagi sebagian orang, festival musik hanyalah tentang deretan nama besar (line-up) yang dideretkan di atas poster demi mendatangkan ribuan pasang mata. Namun, bagi perhelatan BRI Jazz Gunung Series 2026, menyusun daftar penampil adalah sebuah seni meramu rasa. Memasuki tahun 2026 di dalam pelaksanaannya, festival yang membawa payung besar “Jazztination” ini menyuguhkan sebuah gebrakan penting dengan menunjuk pianis dan komposer jazz kenamaan, Sri Hanuraga, sebagai salah satu kurator utama.
Langkah ini menandai babak baru dalam perjalanan panjang Jazz Gunung Indonesia. Di pundak musisi yang akrab disapa Aga inilah, warna dan karakter musikalitas seluruh rangkaian festival—mulai dari BRI Jazz Gunung Slamet 2026 yang akan digelar di Baturraden, hingga BRI Jazz Gunung Bromo 2026 yang bersiap menghentak pada 18–25 Juli 2026 nanti.
Dalam sebuah wawancara eksklusif baru-baru ini, Sri Hanuraga membongkar filosofi mendalam dan kegelisahan artistik di balik layar penentuan line-up tahun ini. Sebuah perbincangan yang membuka mata publik bahwa Jazz Gunung bergerak melampaui batas festival hiburan biasa (beyond jazz).
View this post on Instagram
Misi Kurasi: Seni sebagai Edukasi Sensibilitas
Menjalani tahun perdananya sebagai kurator, Sri Hanuraga mengaku memikul tanggung jawab moral yang besar. Baginya, sebuah festival jazz tidak boleh seragam. Seni, dalam pandangan Aga, memiliki fungsi yang jauh lebih sakral daripada sekadar komoditas komersial.
“Sebenarnya, satu hal yang selalu jadi concern saya adalah keragaman estetik. Karena buat saya pribadi, seni itu adalah edukasi sensibilitas,” ungkap Sri Hanuraga dengan sorot mata tajam penuh antusiasme.
Filosofi “edukasi sensibilitas” ini menjadi fondasi penting bagi Jazz Gunung Series 2026. Aga menjelaskan bahwa masyarakat penikmat musik perlu disuguhkan oleh berbagai macam jenis sensibilitas musikal agar referensi budaya mereka terus bertumbuh.
“Kita perlu macam-macam sensibilitas, tapi tetap masuk dalam khazanah jazz. Itu yang mau saya pastikan, jadi harus ada keragaman. Sebisa mungkin saya mencoba memilih grup-grup yang punya estetika berbeda, sehingga mereka bisa saling memperkaya satu sama lain. Jadi, tidak ada satu warna yang terlalu dominan di atas panggung,” tambahnya.
Melawan Arus Utama: Ruang Eksklusif bagi Eksperimentasi
Komitmen Aga untuk menghadirkan keragaman estetik ini mewujud nyata pada keberaniannya mengurasi penampil. Salah satu kriteria utama yang ia pegang teguh adalah memberikan karpet merah bagi musisi-musisi yang karyanya jarang atau bahkan tidak pernah mendapatkan ruang di festival-festival musik mainstream perkotaan.
“Saya selalu punya preferensi sama jenis grup yang musiknya agak jarang dimainkan di festival lain. Sebisa mungkin, kemarin saya memilihnya dengan cara itu,” jelas pria berambut gondrong tersebut.
Pernyataan ini menjelaskan mengapa panggung Jazz Gunung Series 2026 terasa begitu segar. Pada gelaran Jazz Gunung penonton tidak hanya disuguhi pop-jazz manis sekelas Mocca atau keceriaan NonaRia, tetapi juga ditarik masuk ke dalam eksplorasi progresif dari talenta muda seperti Emptyyy dan Kevin Yosua Big 6.
Formula kurasi yang matang ini juga dipastikan akan dibawa menuju amfiteater terbuka di lereng Gunung Bromo pada pertengahan Juli mendatang. Penonton akan disuguhkan benturan estetik yang luar biasa dari musisi nasional seperti Isyana Sarasvati, Bilal Indrajaya, hingga proyek kolaborasi lintas negara seperti Ring of Fire feat. Simone Prattico (Italia) & Sri Hanuraga, serta Plutato feat. Cait Lin (Taiwan).
Kejutan Rahasia yang Layak Dinanti
Menutup perbincangannya, Sri Hanuraga memberikan sebuah bocoran kecil yang langsung memantik rasa penasaran para pencinta musik tanah air. Menurutnya, daftar penampil yang dirilis saat ini belum sepenuhnya final.
“Masih ada beberapa line-up yang belum di-announce di Jazz Gunung. Jadi, stay tuned, bakal ada kejutan menarik buat kalian semua,” bisik Aga sembari tersenyum penuh rahasia.
Sinergi kurasi artistik yang idealis dari Sri Hanuraga ini berjalan selaras dengan dukungan infrastruktur digital dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebagai mitra perbankan resmi. Lewat kemudahan transaksi cashless via aplikasi super-app BRImo, kenyamanan menikmati keindahan estetika musik pilihan ini terasa semakin sempurna tanpa hambatan teknis di lapangan.
Bagi Anda yang ingin merasakan langsung bagaimana keragaman sensibilitas jazz dikawinkan dengan kemegahan alam pegunungan, pintu gerbang BRI Jazz Gunung Bromo 2026 sudah terbuka lebar. Tiket resmi untuk rangkaian acara satu pekan penuh (18–25 Juli 2026) sudah dapat diamankan melalui laman seketiket.com.
Amankan kursi Anda sekarang, bersiaplah menyambut kejutan dari sang kurator, dan mari menjadi saksi sejarah runtuhnya batas-batas seni di atas awan Bromo!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post