Tahun ke-18, Jazz Gunung Bromo kembali menjadi ruang perjumpaan antara musik, alam, dan kebudayaan. Lebih dari sekadar panggung pertunjukan, ini adalah perayaan tentang karya dan kearifan lokal yang menyatu dalam satu harmonisasi syahdu di pegunungan Bromo.
Lampu panggung amfiteater kini telah dipadamkan, dan denting lagu telah usai. Namun, kehangatan senyum sesama Jama’ah Al-Jazziyah, keharuman aroma pinus Bromo, serta getaran musik yang merasuk ke dalam dada tidak akan pernah benar-benar pergi.
BRI Jazz Gunung Bromo 2026 telah usai digelar, meninggalkan jutaan rekam jejak kenangan yang puitis. Gunung Bromo kembali pada kesunyiannya yang anggun, menunggu waktu di mana kita akan kembali bersatu, merangkul dingin, dan merayakan indahnya kehidupan di atas awan.
Bagi Anda yang sudah mulai merindukan desir angin pegunungan dan gaung musik etno-jazz, simpanlah rindu itu dengan manis. Karena perjumpaan kita belum usai. Terima kasih, Jama’ah Al-Jazziyah, yang selalu menjadi bagian paling hangat dari tiap langkah perjalanan. Semoga harmoni dan keindahan yang tercipta menjadi memori yang abadi.
Sampai jumpa di helatan Jazz Gunung Bromo 2027!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung










Discussion about this post