Festival BRI Jazz Gunung Bromo mengentak dengan musik-musik berlanggam ”aneh” yang biasa terdengar di kelab malam atau diskotik. Nuansa elektronik menyeruak di antara nada-nada melodi khas jazz. Pada perhelatannya yang ke-18 ini, festival tahunan di amfiteater Jiwa Jawa Resort, kaki Gunung Bromo, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Jawa Timur, bercorak masa kini.
Musik paduan jazz dengan bebunyian sintetis dan mesin drum yang dalam disuguhkan trio Batavia Collective asal Jakarta. Trio ini memakai instrumen berbasis elektrik, yakni synthesizer keyboard, synthesizer bass, dan drum. Ketukan dari set drum itu pun terdengar seperti mesin ketukan robotik.

Mereka memainkan lagu-lagu dari dua album pendeknya. Meski albumnya pendek, durasi mainnya panjang. Sebagian pengunjung merespons dengan berdiri bergoyang tipis-tipis dari lokasi duduknya. Gerak tubuh lumayan menghangatkan badan dari suhu sekitar 11 derajat celsius dengan sesekali angin bersemilir.
”Kami tidak pernah menyiapkan daftar lagu setiap pentas. Pilihan lagunya mengikuti suasana crowd atau karakter arena,” kata Kenny Gabriel, pemain synthesizer bass, sebelum naik panggung. Rekannya, Elfa Zulham (drum) dan Doni Joesran (synthesizer keyboard), mengamininya.

Mereka sepakat arena Jazz Gunung Bromo di luar ruang pada elevasi tinggi menggugah racikan musiknya. Ruang itu direspons dengan corak lagu-lagu yang biasanya terdengar di kelab malam atau rave party dengan kerumunan terbatas. Nuansa deep house menggetarkan tanah.
Sore sebelumnya, keajaiban paduan musik jazz dan elektro pop modern disuguhkan sekawanan bernama lucu, Plutato. Para personelnya multinegara, yakni Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Taiwan-Australia. Namun, komposisi musiknya sungguh menyegarkan. Salah satu racikan yang menarik adalah menyilangkan Radiohead dengan Miles Davis.

”Jazz itu semestinya tanpa batas, membebaskan. Ini (jazz) adalah ruang pertemuan berbagai corak, pribadi, dan selera,” kata Will, pemain keyboard synthesizer yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia.
Selain memainkan nomor yang jadi terdengar seperti bunyi-bunyian dari luar angkasa—sesuai nama mereka, Pluto dan Potato, mereka juga membawakan nomor ”Innocentia” yang mengundang penyanyi berambut merah, Cait Lin. Ini adalah lagu berbahasa Mandarin.
”Ketika membawakan lagu itu, aku merasa penonton menerka-nerka voicing-nya. Lama-lama mereka tahu itu lagu berbahasa leluhur kami,” kata pemain saksofon, Justin Liao. Justin dan Cait Lin didapuk mengiringi lagi Batavia Collective pada malam harinya. ”Kami sudah dengar banyak tentang Batavia Collective dan kami suka,” ujar Cait Lin.
Klop sudah. Hari pertama perhelatan itu, Jumat (24/7/2026), menguratkan warna baru pada bentuk jazz dan presentasinya di sebuah festival yang jauh dari gemerlap kota. Paradoks sedemikian membuat hari pertama itu menarik.

Malam yang makin dingin itu ditutup dengan penampilan Isyana Sarasvati, yang langgam musiknya agak jauh dari jazz, mendekati pop klasik. Malam itu, dia mengajak empat pemain instrumen gesek. Lagu-lagu yang biasanya mengentak macam ”My Mistery”, ”Il Sogno”, dan ”Under God’s Plan” jadi megah ala musik chamber.
Dengan suguhan semacam itu, masa depan jazz tak perlu dipusingkan. Ia berkecambah, tumbuh membesar dengan aneka wujud presentasinya masing-masing. Mantap!

Kompas.id adalah surat kabar nasional Indonesia di bawah naungan PT Kompas Media Nusantara











Discussion about this post