Solois jazz internasional, Amelia Ong, di panggung BRI Jazz Gunung Slamet 2026 Sabtu (27/6) kemarin, sukses menyisakan getaran emosional yang mendalam bagi ribuan penonton. Tampil sebagai salah satu pembuka di Wana Wisata Baturraden, Banyumas, Amelia tidak hanya memamerkan kualitas vokal dan aransemen jazznya yang berkelas, tetapi juga menyelipkan sebuah pesan ekologis yang kuat langsung dari atas panggung terbuka.
Momen paling magis malam itu tercipta ketika Amelia Ong membawakan lagu legendaris “Ibu Pertiwi”. Di bawah rimbunnya pohon pinus dan balutan kabut tipis Lereng Slamet, lagu tersebut bertransformasi menjadi sebuah refleksi mendalam, mengajak seluruh Jamaah Al-Jazziyah yang hadir untuk kembali merenungkan pentingnya menjaga dan melestarikan alam.
View this post on Instagram
Bukan Sekadar Estetika, Sebuah Ajakan Menjaga Bumi
Bagi Amelia Ong, tampil di Jazz Gunung Series memberikan pengalaman spiritual yang sepenuhnya berbeda dibandingkan panggung-panggung konvensional di dalam gedung. Karakter panggung yang menyatu langsung dengan alam terbuka Baturraden membuat pesan dari lagu “Ibu Pertiwi” terdengar jauh lebih hidup dan relevan.
Melalui penampilannya tersebut, Amelia secara tersurat menyampaikan pesan bahwa keindahan alam yang dinikmati malam itu adalah titipan yang harus dijaga bersama. Musik jazz, dalam hal ini, bertindak sebagai medium atau jembatan komunikasi yang melunakkan hati manusia untuk lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan khususnya untuk menaikkan kesadaran dalam menjaga bumi ini, khususnya negara Indonesia ini. Dedikasi emosional ini mendapat sambutan luar biasa berupa riuh tepuk tangan dari penonton yang larut dalam suasana syahdu.
Wujud Nyata Komitmen Green Event Jazz Gunung
Pesan menjaga alam yang digaungkan oleh Amelia Ong di atas panggung selaras dengan status festival ini yang menyandang penghargaan bergengsi “Green Event of the Year”. Pihak penyelenggara, Jazz Gunung Indonesia, memang berkomitmen penuh untuk menerapkan prinsip berkelanjutan di setiap aspek festival—mulai dari manajemen sampah, pembatasan plastik, hingga edukasi ekologis kepada pengunjung.
Langkah ini juga sejalan dengan visi pariwisata berbasis alam dan budaya yang didukung penuh oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) selaku mitra perbankan resmi. Melalui kampanye transaksi cashless via aplikasi super-app BRImo, BRI turut berkontribusi sekaligus mendorong efisiensi ekonomi yang berkelanjutan di sektor industri kreatif.
Menjaga Semangat Kelestarian Menuju Hamparan Bromo
Kesuksesan debut Amelia Ong dalam menyuarakan isu lingkungan di Lereng Slamet membuktikan bahwa BRI Jazz Gunung Series telah melangkah jauh melampaui batas festival musik biasa (beyond jazz). Ini adalah ruang di mana seni, kesadaran sosial, dan alam berbicara dalam frekuensi yang sama.
Semangat dan pesan kelestarian alam ini dipastikan akan terus dibawa dalam estafet rangkaian kedua, yaitu BRI Jazz Gunung Bromo 2026 yang akan digelar pada 24–25 Juli 2026 mendatang di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Probolinggo, Jawa Timur dengan menghadirkan sederet musisi nasional dan internasional, antara lain Ali, Bilal Indrajaya, Isyana Sarasvati, Eva Celia, Teza Sumendra, Nesia Ardi, Littlefingers, Ring of Fire feat. Simone Prattico (Italia) & Sri Hanuraga, Plutato feat. Cait Lin (Taiwan), Simone Prattico Java Collective feat. Sri Hanuraga & Kevin Yosua, serta Watchdog (Prancis).
Bagi Anda yang ingin menjadi bagian dari gerakan seni yang menghargai alam ini, tiket resmi sudah dapat diamankan melalui laman seketiket.com. Mari bersiap kembali merayakan musik berkualitas sekaligus menjaga harmoni bersama semesta di hamparan Bromo!

Jazz Gunung Indonesia merupakan penyelenggaraan musik etnik berskala internasional yang diprakarsai oleh tiga sahabat: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Almarhum Djaduk Ferianto.
Jazz Gunung Series merupakan salah satu wujud dedikasi Jazz Gunung Indonesia untuk merambah ke gunung-gunung yang tersebar di Indonesia dengan mengangkat pariwisata dan kearifan lokal daerah yang diusung











Discussion about this post