<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jazz Gunung</title>
	<atom:link href="http://jazzgunung.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jazzgunung.com</link>
	<description>Indahnya Jazz Merdunya Gunung</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 May 2012 09:00:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Yuk, Nonton Pertunjukan Jazz di Gunung Bromo!</title>
		<link>http://jazzgunung.com/yuk-nonton-pertunjukan-jazz-di-gunung-bromo/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/yuk-nonton-pertunjukan-jazz-di-gunung-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Seperti apa sensasi menonton pertunjukan musik jazz di ketinggian 2 ribu meter dari permukaan laut? Perhelatan Jazz Gunung akan kembali digelar pada 9 Juli mendatang di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Jazz Gunung 2011 yang digelar untuk ketiga kalinya itu akan menampilkan musisi ternama Indonesia. Mereka adalah Tohpati Ethnomission, Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, Glenn [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti apa sensasi menonton pertunjukan musik jazz di ketinggian 2 ribu meter dari permukaan laut? Perhelatan Jazz Gunung akan kembali digelar pada 9 Juli mendatang di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.</p>
<p>Jazz Gunung 2011 yang digelar untuk ketiga kalinya itu akan menampilkan musisi ternama Indonesia. Mereka adalah Tohpati Ethnomission, Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, Glenn Fredly, Trie Utami, Maya Hasan, dan kelompok perkusi Kramat dari Madura.<span id="more-241"></span></p>
<p>&#8220;Saya sangat <em>excited</em>, ini usaha kesenian yg mengangkat musik jazz ke alamnya. Saya juga banyak dapat cerita dari Syahrani (musisi) ya, bukan Syahrini,&#8221; ucap Glenn saat jumpa pers di Kampus Perbanas, Jakarta Selatan, Kamis (9/6/2011).</p>
<p>&#8220;Acara ini dapat merenungkan saya kalau jazz ini bukan milik acara masyarakat urban aja, tapi ini juga mengembalikan secara luas ke Indonesia kita yang ke akarnya. Menurut saya menarik karena venue-nya, beda suasananya,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Namun bukan hanya pertunjukan musik saja yang akan ditampilkan dalam acara tersebut. Jazz Gunung yang akan dipandu oleh Butet Kertarejasa itu seperti juga menyuguhkan sebuah kesenian Reog untuk mengawali pertunjukan Jazz Gunung.</p>
<p>Untuk menyaksikan acara tersebut, cukup membeli tiket seharga Rp 100 ribu yang dapat dibeli melalui www.jazzgunung.com. Acara yang digagas oleh Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa dan musikus Djaduk Ferianto itu menjadi lebih menarik karena akan ada pameran patung karya Dolorosa Sinaga dengan tema &#8216;Nature, Art &amp; Symphony&#8217;.</p>
<p><strong>(ich/mmu)</strong></p>
<p>Source: <a href="http://hot.detik.com/music/read/2011/06/09/193738/1657135/228/yuk-nonton-pertunjukan-jazz-di-gunung-bromo">http://hot.detik.com/music/read/2011/06/09/193738/1657135/228/yuk-nonton-pertunjukan-jazz-di-gunung-bromo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/yuk-nonton-pertunjukan-jazz-di-gunung-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz Gunung 2011 Pukau Jamaah &#8216;Al Jazziyah&#8217;</title>
		<link>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-2011-pukau-jamaah-al-jazziyah/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-2011-pukau-jamaah-al-jazziyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Banner &#8216;Merdunya Gunung, Indahnya Jazz&#8217; menjadi kata yang mencolok dan memprovokasi di sepanjang jalan menuju ke venue Jazz Gunung 2011 yang digelar di halaman samping Java Banana Bromo Lodge, Cafe and Gallery. Dan kata tersebut ternyata membuktikan bahwa event yang digelar tiap tahun yang kini masuk tahun ketiga memang sangat menarik. Sekitar jam 14.00 event [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banner &#8216;Merdunya Gunung, Indahnya Jazz&#8217; menjadi kata yang mencolok dan memprovokasi di sepanjang jalan menuju ke venue Jazz Gunung 2011 yang digelar di halaman samping Java Banana Bromo Lodge, Cafe and Gallery. Dan kata tersebut ternyata membuktikan bahwa event yang digelar tiap tahun yang kini masuk tahun ketiga memang sangat menarik.<span id="more-239"></span></p>
<p>Sekitar jam 14.00 event ini dibuka dengan penampilan reog dari masyarakat Probolinggo goyang kemudian disusul dengan penampilan kolaborasi gamelan dan perkusi dari warga Probolinggo. Para penonton mulai berdatangan dengan pakaian dingin dan masker karena jalanan yang berdebu akibat abu pasca erupsi Bromo.</p>
<p>Usai penampilan kolaborasi gamelan dan perkusi yang menghangatkan suasana yang beranjak sore, penonton disentak dengan hentakan tetabuhan dari grup kelompok perkusi <strong>Kramat Madura</strong>.</p>
<p>Penampilan mereka yang enerjik dan bersemangat seakan mengusir hawa dingin yang terasa menusuk tulang. Grup yang datang jauh-jauh dari Madura ini cukup unik, pasalnya alat musik yang mereka gunakan berasal dari barang bekas. Terpukau akan penampilan mereka, <strong>Djaduk Feriant</strong>o yang didaulat menjadi MC meminta satu lagu lagi.</p>
<p>Acara yang diprakarsai oleh Sigit Purnomo bersama <strong>Butet Kartaredjasa</strong> dan <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/d/djaduk_ferianto/"><strong>Djaduk Ferianto</strong></a> juga dihadiri oleh menteri Daerah Tertinggal Ir. A. Helmy Faisal Zaini, SE yang memberikan sambutan di tengah acara. Bupati Probolinggo, Hasan Aminudin juga turut hadir dan memberikan sambutannya.</p>
<p><a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/d/djaduk_ferianto/"><strong>Djaduk</strong></a> dan <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/b/butet_kertaredjasa/"><strong>Butet Kertaredjasa</strong></a> yang menjadi host malam itu banyak melontarkan joke yang kritis namun membuat penonton terpingkal-pingkal. <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/b/butet_kertaredjasa/"><strong>Butet</strong></a> pun menyebut para penggemar jazz dengan sebutan Jamaah Al Jazziyah</p>
<p>Lepas acara sambutan, <strong>Tohpati Ethnomission</strong> memberikan penampilannya yang terbaik. 5 lagu mereka gelontorkan dengan penampilan yang memukau. Dari seluruh setlist yang mereka bawakan, yang paling menarik perhatian saat <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/t/tohpati/"><strong>Tohpati</strong></a> yang sore itu ditemani dengan <strong>Indro</strong> (bass), <strong>Didik Suwarin</strong> (seruling), <strong>Echa</strong> (bass) dan <strong>Endang Ramadhan</strong>(kendang) adalah lagu terakhir, D sini <strong>Echa</strong> (drum) beradu dengan <strong>Endang</strong> (kendang) dalam memainkan alat perkusi. Applause pun membahana dari para penonton dengan suguhan instrumental yang begitu memukau.</p>
<p>Seiring hari beranjak malam, hawa dingin pun mulai terasa. Panitia menyiapkan anglo berisikan arang yang digunakan sebagai penghangat tubuh. <strong>Kua Etnika</strong> bersiap untuk memulai penampilannya dengan alunan jazz yang sangat etnik. Suara merdu <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/t/trie_utami/"><strong>Trie Utami</strong></a> begitu menyejukkan suasana yang mana konser ini berlangsung penuh keakraban. <strong>Kua Etnika</strong> juga berkolaborasi dengan <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/m/maya_hassan/"><strong>Maya Hassan</strong></a> dengan petikan harpanya yang penuh harmoni.</p>
<p>Applause juga diberikan kepada <strong>Kua Etnika</strong> saat menampilkan lagu mereka berjudul<em>Reog</em>. Di lagu ini <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/t/trie_utami/"><strong>Trie Utami</strong></a> mengejutkan penonton dengan menari mengikuti alunan lagu.<em> </em></p>
<p><em>Kala Cinta Menggoda</em> menjadi nomor pembuka <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn Fredly</strong></a> yang tampil usai <strong>Kua Etnika</strong>. <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn</strong></a> menjadi performance yang paling dinanti di event Jazz Gunung 2011. Selepas dua lagu yang membuka penampilannya, <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn</strong></a> menyapa para penonton sembari mengusap-usap tangan karena kedinginan.</p>
<p>Usai menyapa penonton, <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn</strong></a> menghangatkan penonton dengan <em>Kasih Putih</em>. Para penonton pun bernyanyi bersama, hingga tercipta suasana yang sangat romantis. 7 lagu dibawakan oleh <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn</strong></a> malam itu, dan lagu <em>You Are My Everything</em> menjadi penutup malam minggu yang indah ini.</p>
<p>Acara belum selesai, selepas <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/g/glenn_fredly/"><strong>Glenn</strong></a> para penampil melakukan kolaborasi bersama. Semua musisi melakukan jam session, menjadikan suatu moment yang langka. Sebuah konser yang sangat bagus, dengan venue outdoor yang nyaman dan membuat suasana akrab antara penonton dan pemain.   <strong>(kpl/faj)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Source: </strong><a href="http://musik.kapanlagi.com/berita/jazz-gunung-2011-pukau-jamaah-al-jazziyah.html">http://musik.kapanlagi.com/berita/jazz-gunung-2011-pukau-jamaah-al-jazziyah.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-2011-pukau-jamaah-al-jazziyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suguhan Musik Etnik di Jazz Gunung 2011</title>
		<link>http://jazzgunung.com/suguhan-musik-etnik-di-jazz-gunung-2011/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/suguhan-musik-etnik-di-jazz-gunung-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Musik etnik bercita rasa nusantara masih menjadi suguhan utama dalam perhelatan Jazz Gunung 2011 di Java Banana Bromo, Lodge, Cafe &#38; Gallery, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (09/07). Gelaran yang memasuki tahun ketiga pelaksanaannya ini memang punya konsep unik sebagai sebuah perhelatan jazz. Pasalnya selain menyuguhkan panorama indah Gunung Bromo sebagai panggungya, Jazz Gunung mencekoki jazz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik etnik bercita rasa nusantara masih menjadi suguhan utama dalam perhelatan Jazz Gunung 2011 di Java Banana Bromo, Lodge, Cafe &amp; Gallery, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (09/07). Gelaran yang memasuki tahun ketiga pelaksanaannya ini memang punya konsep unik sebagai sebuah perhelatan jazz. Pasalnya selain menyuguhkan panorama indah Gunung Bromo sebagai panggungya, Jazz Gunung mencekoki jazz lover dari penjuru Indonesia dengan musik jazz etnik.<span id="more-237"></span></p>
<p>Empat penampil dalam gelaran ini memasukkan unsur etnik sehingga musik yang mereka sajikan menjadi sangat kaya dan tentunya akrab di telinga penonton yang didominasi oleh orang Indonesia, meski ada beberapa wisatawan asing yang turut datang dan menikmati sajian musik etnik ini. Para penampil tersebut adalah Kolaborasi Gamelan Perkusi asal Probolinggo, Perkusi Kramat Madura asal Sumenep, Tohpati and The Ethnomission, dan yang tak pernah ketinggalan dalam gelaran Jazz Gunung, Kua Etnika pimpinan Djaduk Ferianto. Dengan menggunakan instrumen khas Indonesia, yakni gamelan, kendang, seruling, empat penampil tersebut membuat panggung Java Banana menjadi hangat serta bersemangat dengan cara mereka yang berbeda-beda.</p>
<p>Sekitar pukul 2 lebih, seperti yang dijadwalkan, acara dibuka dengan atraksi kesenian Ponorogo, Reog Jathilan di pelataran luar Java Banana. Pertunjukan kesenian tradisional ini menarik perhatian para pengunjung yang hampir seperemapatnya rela meninggalkan tempat duduk di depan venue untuk melihat di pelataran. Belum habis kekaguman penonton, dari dalam venue terdengar musik gandrung sebagai pembuka gelaran, disambut dengan tepuk tangan penonton yang sudah tak sabar menikmati musik-musik jazz etnik dari Kolaborasi Gamelan Perkusi ini.</p>
<p>Sembari duduk lesehan di sisi kiri panggung, kelompok gandrung asal Probolinggo inimenyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa Osing. Tempo cepat gamelan dan kendang yang mereka mainkan sedikit demi sedikit memanaskan telinga para penonton sebelum nantinya menikmati suguhan musik jazz dari &#8216;para dewa&#8217; musik jazz etnik Indonesia, seperti Tohpati dan Djaduk. Selain menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Jawa, kelompok ini menggarap lagu Maluku, Rame-rame dengan sentuhan musik gandrung mereka, sebuah karya yang unik untuk dinikmati. Unsur etnik tak hanya nampak dari musik yang mereka bawakan namun juga dari pakaian yang mereka kenakan.</p>
<p>Masih dari seniman lokal, Perkusi Kramat Madura langsung menyambung alur pertunjukan dengan membawakan lagu-lagu berbahasa Madura dan iringan musik perkusi seperti layaknya orang sedang patrol sahur saat Ramadhan, rancak dan bersemangat. Beberapa lagu yang mereka bawakan antara lain Manten, Jubing Masola dan Sellok Madureh yang punya arti cincin Madura. Yang unik, dalam musik yang mereka mainkan ini ada sedikit sentuhan drum band dengan adanya suara bass drum dan terompet.</p>
<p>Di sela-sela permainan musik mereka, tak jarang leader Perkusi Kramat ini berkelakar dengan para penonton, seperti saat ia menanggapi tepuk tangan penonton. &#8220;Saya heran, penonton ini tepuk tangan karena mengerti atau cuma tepuk tangan?&#8221; ujarnya. Pertanyaan tersebut muncul lantaran memang semua lagu yang mereka mainkan dinyanyikan dalam bahasa Madura. Keheranannya tersebut malah makin memancing tawa dan tepuk tangan penonton. &#8220;Selamat untuk tidak mengerti kalau begitu,&#8221; imbuhnya kemudian. Tampil dalam formasi barisan, kelompok ini menyuguhkan musik berkualitas lainnya dalam Jazz Gunung 2011 ini.</p>
<p>Menjelang senja, nama yang sudah tak asing lagi bagi pecinta jazz, Tohpati masuk venue dengan bandnya, Tohpati and The Ethnomission. Tanpa banyak bicara gitaris berkacamata ini memainkan musik dari album mereka, Save The Planet. Dalam Jazz Gunung ini, Dhemas Nawangsa, sang drummer berhalangan hadir dan posisinya digantikan oleh Echa Soemantri. Namun hal tersebut tak mengurangi chemistry antara Indro (bass), Dicky (seruling), Endang (kendang), dan Tohpati sendiri. Sosok gitaris rendah hati ini bahkan memuji penampilan rekan-rekannya tersebut dan berujar bahwa permainan gitarnya tak akan indah tanpa iringan musik rekannya.</p>
<p>Berlima mereka membuat penonton berdecak kagum lewat lagu mereka seperti di antaranya Janger dan Perang Tanding, dimana Echa dan Endang &#8216;berperang&#8217; mempertunjukkan skill dan kepekaan ritmis mereka dalam menggebuk drum atau memukul kendang. Yang pasti, permainan speed Tohpati dalam mengocok gitar patut mendapatkan standing ovation.</p>
<p>Hari sudah mulai gelap dan hawa terasa dingin menusuk, Tohpati yang sedari tampil terus melirik jam tangannya bersiap menutup penampilannya sore hari tersebut. Bukan karena tak ingin terus menghibur penonton, namun ia jujur mengaku bahwa dinginnya hawa Bromo kala malam membuatnya kesulitan memainkan gitar. &#8220;Sudah makin dingin, harus segera selesai ini. Biarin band abis saya kedinginan,&#8221; kelakarnya yang disambut tawa penonton. Penampilan Tohpati pada malam itu ditutup dengan lagu Bedhaya Ketawang yang bertempo lambat dengan musik yang membius lantaran bercerita tentang tarian Keraton. (kpl/dka)</p>
<p><strong>Source: </strong><a href="http://id.omg.yahoo.com/news/suguhan-musik-etnik-di-jazz-gunung-2011-230100822.html">http://id.omg.yahoo.com/news/suguhan-musik-etnik-di-jazz-gunung-2011-230100822.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/suguhan-musik-etnik-di-jazz-gunung-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz Gunung Digelar di Ketinggian Bromo</title>
		<link>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-digelar-di-ketinggian-bromo/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-digelar-di-ketinggian-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah konser musik jazz digelar di ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut, Java Banana Lodge, Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (10/7).  Tohpati tampil pertama kali menghentak dinginnya Bromo di sore hari. Alunan instrumental petikan gitar Tohpati memukau ratusan penonton, yang sebagian besar masyarakat suku tengger. Meski terbilang awam, masyarakat nampak menikmati pertunjukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah konser musik jazz digelar di ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut, Java Banana Lodge, Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (10/7).  Tohpati tampil pertama kali menghentak dinginnya Bromo di sore hari.<span id="more-235"></span></p>
<p>Alunan instrumental petikan gitar Tohpati memukau ratusan penonton, yang sebagian besar masyarakat suku tengger. Meski terbilang awam, masyarakat nampak menikmati pertunjukkan yang diberi label Jazz Gunung tersebut.</p>
<p>Beranjak malam, suasana kian hangat dengan penampilan Tri Utami, Glenn Fredly, dan petikan harpa Maya Hasan. Jazza unung digelar sebagai wujud kepedulian sejumlah pihak pascaerupsi Bromo. Diharapkan potensi wisata Bromo kembali pulih.(IKA)</p>
<p>Source: <a href="http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/12/131875/Jazz-Gunung-Digelar-di-Ketinggian-Bromo">http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/12/131875/Jazz-Gunung-Digelar-di-Ketinggian-Bromo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-digelar-di-ketinggian-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz Gunung, Jendela Promosi Wisata Bromo</title>
		<link>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-jendela-promosi-wisata-bromo/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-jendela-promosi-wisata-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:29:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Pasuruan &#8211; Pergelaran musik Jazz Gunung yang telah berlangsung hingga ketiga kali di Java Banana Bromo, seolah telah menjadi jendela promosi wisata andalan Jawa Timur.Setiap kali konser digelar, gaungnya membahana ke seantero Nusantara, bahkan dunia. Setiap kali pergelaran, tiket selalu ludes diborong para penikmat jazz. Bahkan tiket pergelaran Jazz Gunung 2011 sebanyak 500 tiket yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pasuruan &#8211; Pergelaran musik Jazz Gunung yang telah berlangsung hingga ketiga kali di Java Banana Bromo, seolah telah menjadi jendela promosi wisata andalan Jawa Timur.Setiap kali konser digelar, gaungnya membahana ke seantero Nusantara, bahkan dunia.</p>
<p>Setiap kali pergelaran, tiket selalu ludes diborong para penikmat jazz. Bahkan tiket pergelaran Jazz Gunung 2011 sebanyak 500 tiket yang dijual antara Rp100 ribu hingga Rp250 ribu telah ludes terjual, sebelum konser dimulai.<span id="more-233"></span></p>
<p>Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Digdoyo mengakui, konser Jazz Gunung yang telah digelar secara rutin setiap tahun sekali tersebut seolah telah menjadi jendela promosi wisata Gunung Bromo.</p>
<p>&#8220;Setiap kali ada pergelaran Jazz Gunung kamar-kamar hotel di kawasan Gunung Bromo selalu dipenuhi tamu,&#8221; ucap Digdoyo.</p>
<p>Pergelaran Jazz Gunung, lanjut Digdoyo, juga memperpanjang kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo. Jika sebelumnya rata-rata lama kunjungan wisatawan ke Bromo hanya cukup sehari, kini dengan adanya pergelaran Jazz Gunung, lama kunjungan tamu meningkat menjadi dua hari.</p>
<p>&#8220;Ini baru dampak langsung bisa dirasakan,&#8221; ujar Digdoyo.</p>
<p>Sedangkan dampak tidak langsung, kata Digdoyo, pergelaran Jazz Gunung yang telah berlangsung tiga kali itu seolah menjadi jendela promosi wisata Gunung Bromo dalam jangka panjang.</p>
<p>Jazz Gunung yang digagas Sigit Pramono bersama seniman serba bisa Butet Kertarejdjasa, dan musikus Djaduk Ferianto, telah digelar tiga kali, sejak 2009 hingga 2011 ini. Setiap kali pergelaran bisa disebut selalu sukses, baik jumlah penikmat, maupun dampak terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo, baik langsung, maupun jangka panjang.</p>
<p>Sigit Pramono yang juga pemilik Java Banana Bromo, tempat pergelaran Jazz Gunung mengatakan, pergelaran Jazz Gunung 2011 kali ini untuk merayakan Gunung Bromo pascaerupsi, sekaligus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat yang baru saja terkena musibah tersebut.</p>
<p>Sigit Pramono yang juga menjadi Komisaris Bank BCA, dan Ketua Perbanas juga berhasil menghimpun dana dari para nasabah bank kelas premium untuk membantu pembangunan gedung SDN Ngadirejo yang rusak tertimnpa abu vulkani Gunung Bromo saat erupsi beberapa bulan lalu.</p>
<p>Dana bantuan tersebut sebagian juga berasal dari hasil pameran foto Gunung Bromo karya Sigit Pramono, mantan Dirtu BNI 46 yang juga sebagai pehobi fotografi.</p>
<p>Pergelaran Jazz Gunung juga dihadiri Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmi Yahya Zaini. Menteri PDT mengatakan, ada tiga alasan mengapa ia mengunjungi Gunung Bromo saat ini.</p>
<p>Disebutkan, pertama, karena ia mengaku sangaat mencintai Gunung Bromo. Setiap kali berkunjung ke Bromo juga selalu menginapdi Java Banana yang berada di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabuoaten Probolinggo</p>
<p>Kedua, karena ia juga mencintai musik Jazz. Serta yang ketiga, kunjungannya ke Probolinggo juga untuk meresmikan budi daya jamur yang tujuan untamanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Kabupaten Probolinggo.</p>
<p>Itu sebabnya, Bupati Probolinggo Hasan Aminudin saat membuka Jazz Gunung di Java Banana Bromo memberikan apresiasi kepada para penggagas Jazz Gunung, maupun perhatian yang diberikan Menteri PDT.</p>
<p>Bupati Probolinggo juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan para penggemar jazz dan sponsor yang telah membantu pembangunan kembali gedung SDN Ngadirejo yang rusak akibat tertimpa abu vulkanik Gunung Bromo, beberapa bulan lalu.</p>
<p>Sigit Pramono menjelaskan, Jazz Gunung digagas atas pertimbangan konsep yang unik yang pernah ada di Indonesia, dan mungkin di dunia, yakni sebuah pergelaran jazz di gunung dengan ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut (mdpl).</p>
<p>Jazz Gunung yang digelar di Java Banana secara &#8220;outdoor&#8221; dengan latar belakang gugusan Gunung Bromo, menampilkan Tohpati Ethnomission, DjadukFerianto, Gle3nFredly, Trie Utami, Maya Hasan, serta Kelompok Perkusi Kramat Madura dengan Host Butet Kertarejasa.</p>
<p>Untuk mengawali pertunjukkan Jazz Gunung , juga digelar atraksi ritual kesenian tradisional jathilan, dan Reog Ponorono, serta dilakukan Pembukaan Pameran Patung dari pematung perempuan senior Indonesia, Dolorosa Sinaga dengan tema &#8220;Natur, Art &amp; Symphony&#8221; yang berlangsung sehari di Java Banana Gallerry.</p>
<p>Sigit Pamono juga menjelaskan, penyelenggaraan Jazz Gunung dirancang sebagai upaya untuk memberi alternatif menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke Bromo.</p>
<p>Sebab, lanjut Sigit, selama ini Bromo hanya lebih dipromosikan sebagai tempat untuk menikmati panorama matahari terbit yang terindah di dunia.</p>
<p>&#8220;Harus diakui, sensasi peristiwa matahari terbit memang menjadi pesona utama Bromo yang telah mendunia. Bahkan oleh situs Lonely Planet, Bromo juga pernah dinilai sebagai wisata gunung terindah ketiga di dunia, setelah Gunung Olympus di Yunani, dan Gunung Elbrus di Rusia, sedangkan urutan keempat Gunung Fuji di Jepang,&#8221; papar Sigit.</p>
<p>Terlebih, lanjut Sigit, semenjak erupsi Gunung Bromo yang cukup menyita perhatian beberapa waktu lalu, kini saatnya kebangkitan kembali pariwisata Bromo dengan segala keunikan masyarakat dan lingkungannya.</p>
<p>Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Digdoyo mengungkapkan, selama Gunung Bromo mengalami erupsi, jumlah pengunjung merosot tajam sampai hanya sekitar 15 persen dari biasanya.</p>
<p>Namun, setelah wisata Gunung Bromo dibuka kembali pascaerupsi, jumlah pengunjung berangsur meningkat, dari 15 persen menjadi 50 persen. Bahkan kini kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo telah normal kembali.</p>
<p>Meski, Digdioyo mengakui, akibat erupsi kini masih banyak infrastruktur pariwisatadi Gunung Bromo yang rusak belum diperbaiki, seperti jalan menuju Puncak Penanjakan yang putus belum juga diperbaiki. Padahal, lanjut Digdoyo, Puncak Penanjakan telah menjadin ikon Gunung Bromo.</p>
<p>Ia menyebutkan, saat bersamaan pergelaran Jazz Gunung, kamar-kamar hotel di kawasn Gunung Bromo penuh. Sebanyak 230 kamar dari 12 hotel yang ada di kawasan Gunung Bromo sekitar 90 persen terisi.</p>
<p>&#8220;Itu belum termasuk kamar-kamar &#8216;home stay&#8217; yang jumlahnya jauh lebih banyak,&#8221; papar Digdoyo.</p>
<p>Selain mengalami peningkatan jumlah pengunjung, kata Digdoyo, lama tinggal wisatawan juga meningkat, dari rata-rata hanya sehari, meningkat menjadi rata-rata dua hari.</p>
<p>Digdoyo mengatakan, dampak pergelaran Jazz Gunung sangat besar dalam meningkatkan jumlah pengunjung maupun sebagai sarana promosi wisata Gunung Bromo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Source: <a href="http://www.antarajatim.com/lihat/berita/66323/jazz-gunung-jendela-promosi-wisata-bromo"><em>http://www.antarajatim.com/lihat/berita/66323/jazz-gunung-jendela-promosi-wisata-bromo</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/jazz-gunung-jendela-promosi-wisata-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sigit Pramono Gelar Jazz Gunung 2011</title>
		<link>http://jazzgunung.com/sigit-pramono-gelar-jazz-gunung-2011/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/sigit-pramono-gelar-jazz-gunung-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Jazz Gunung 2011 kembali di gelar bersamaan dengan pameran patung Dolorosa Sinaga di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. &#8220;Jazz Gunung adalah konsep paling unik perhelatan jazz yang pernah ada di Indonesia di pegunungan Bromo, Jawa Timur dan diharapkan menjadi daya tarik wisata yang memberikan dampak berganda ekonomi pada masyarakat sekitar,&#8221; kata Sigit Pramono, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jazz Gunung 2011 kembali di gelar bersamaan dengan pameran patung Dolorosa Sinaga di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.</p>
<p>&#8220;Jazz Gunung adalah konsep paling unik perhelatan jazz yang pernah ada di Indonesia di pegunungan Bromo, Jawa Timur dan diharapkan menjadi daya tarik wisata yang memberikan dampak berganda ekonomi pada masyarakat sekitar,&#8221; kata Sigit Pramono, Ketua Perbanas yang menjadi penggagas kegiatan itu, hari ini.<span id="more-231"></span></p>
<p>Menurut dia, sukses dengan dua edisi perhelatan Jazz Gunung yang digelar di Java Banana Bromo, Lodge, Café &amp; Gallery, Jl. Raya Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, kali ini  libatkan pemain harpa Maya Hasan, Glenn Ferdly, Trie Utami, Tohpati Ethnomission, Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, Kelompok Perkusi Kramat dari Madura dan Butet Kartaredjasa sebagai tuan rumah, jelasnya.</p>
<p>Acara yang digelar pada hari Sabtu, 9 Juli 2011 ini juga diisi dengan sebuah ritual, kesenian   tradisi Jathilan Reog. Perhelatan kali ini juga menjadi istimewa karena dibarengi dengan pembukaan pameran Patung dari pematung perempuan senior Indonesia, Dolorosa Sinaga.</p>
<p>Pameran patung dengan tema ‘Nature, Art &amp; Symphony’ ini akan dilangsungkan di area yang sama dengan Jazz Gunung, yaitu di Java Banana Gallery dan akan berlangsung sampai Desember 2011.</p>
<p>Pemain harpa Maya Hasan akan berkolaborasi dengan Djaduk Ferianto di acara yang mengangkat tema ”Indahnya Jazz Merdunya Gunung” dan selalu mengangkat musik tradisional.</p>
<p>Maya Hasan dan Glenn Ferdly yang baru kali ini bergabung juga sangat antusias untuk tampil Glenn Ferdly malah menilai Jazz Gunung  bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga proses spiritual.</p>
<p>Sigit menambahkan bahwa penyelenggara dan masyarakat Bromo siap menerima tamu-tamu dari ibukota dan kota-kota besar lainnya untuk menikmati pertunjukan di tengah keindahan Gunung Bromo ini.</p>
<p>&#8220;Respons masyarakat sangat positif dimana mereka dapat menikmati musik jazz dengan harga tiket yang terjangkau sebesar Rp100.000/orang,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk menikmati pertunjukan jazz ini akan memberikan pencitraan yang baik bagi pariwisata Gunung Bromo, kata Sigit. (faa)</p>
<p>Source: <a href="http://en.bisnis.com/articles/sigit-pramono-gelar-jazz-gunung-2011">http://en.bisnis.com/articles/sigit-pramono-gelar-jazz-gunung-2011</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/sigit-pramono-gelar-jazz-gunung-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cool Jazz = Jazz “Dingin”</title>
		<link>http://jazzgunung.com/cool-jazz-jazz-dingin/</link>
		<comments>http://jazzgunung.com/cool-jazz-jazz-dingin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jazzgunung.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Mendengarkan musik di mobil?, selalu kita lakukan setiap hari ketika berangkat ke kantor, mendengarkan musik di kamar sambil belajar? adalah kebiasaan kita ketika masih menjadi pelajar – mahasiswa, bahkan akhir-akhir ini tidak jarang kita berolah-raga: lari, bersepada juga dilakukan dengan mendengarkan musik lewat bantuan ear-phone, tapi jika kita mendengarkan musik apalagi jazz di atas ketinggian 2000 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengarkan musik di mobil?, selalu kita lakukan setiap hari ketika berangkat ke kantor, mendengarkan musik di kamar sambil belajar? adalah kebiasaan kita ketika masih menjadi pelajar – mahasiswa, bahkan akhir-akhir ini tidak jarang kita berolah-raga: lari, bersepada juga dilakukan dengan mendengarkan musik lewat bantuan <em>ear-phone</em>, tapi jika kita mendengarkan musik apalagi jazz di atas ketinggian 2000 dpl (diatas permukaan laut) dan dengan suhu rata-rata 10 – 8 derajat celcius adalah sesuatu yang “<em>nyeleneh</em>”.<span id="more-229"></span></p>
<p>Gunung Bromo Probolinggo Jawa Timur yang terpilih untuk menemani kita mendengarkan permainan musik jazz: <strong>Tohpati Ethnomission</strong>, <strong>Glen Fredly</strong>, <strong>Kua Etnika</strong> bersama  <strong>Trie Utami</strong> dan <strong>Maya Hasan</strong>. Urutan acara demi acara menjadi lebih hidup ketika dipandu dengan kocak oleh pembawa acara bersaudara: <strong>Butet Kartaradjasa</strong> dan <strong>Jaduk Ferianto</strong>, suatu hal yang tidak biasa dalam pertunjukan musik Jazz.</p>
<p>Pagi sampai siang hari dan seperti juga pagi dan siang-siang hari sebelumnya yang terdengar sampai gendang telinga di Java Banana Lodge, desa Wonotoro, Sukapura Probolinggo adalah suara desiran angin yang bersentuhan dengan pucuk-pucuk pepohonan, tapi lewat siang hari itu – Sabtu 9 Juli 2011 ketika acara dimulai, bercampurlah suasana pegunungan yang sehari-hari tenang dengan gempitanya Reog Jathilan. Terbukti sudah bahwa irama dan alunan alat musik apapun bisa tercipta di mana saja bahkan sampai di sebuah pegunungan dan menghasilkan komposisi – indah.</p>
<p>Dilanjutkan dengan tampilan Kolaborasi Gamelan Perkusi yang berasal dari masyarakat Osing – Probolinggo. Kuatnya alat musik tabuh (kendang) dan gamelan menjadikan siang yang mulai dingin menjadi hangat.</p>
<p>Sajian musik etnik dilanjutkan dengan penampilan teman2 dari madura yang bergabung dengan nama Perkusi Kramat Madura. Berbaju seragam putih dengan selendang batik madura serta “udeng” (penutup kepala) menyala warna merah dan tentu saja berbahasa madura. Tidak disangka dengan alat yang sederhana (mengingatkan kita waktu kecil di kala bulan puasa, rame-rame membangunkan sahur dengan istilah “patrol”) bisa membuat terkagum-kagum sekitar 500-an penonton.</p>
<p>Suasana berubah dari nuansa sehari-hari budaya Tengger yang tradisional etnik menjadi pop etnik dengan hadirnya (Kolaborasi  Gamelan Perkusi dan Perkusi Kramat Madura) ke modern etnik dalam arti universal ketika Tohpati Ethnomission naik ke panggung. Tetap di selingi semilir angin dan dingin gunung, serta bebauan khas alam terbuka, komposisi yang dimainkan juga tercipta – indah.</p>
<p>Suhu udara semakin menurun dalam hitungan derajat Celcius-nya, dibuktikan dengan sudah tidak bisa lagi suhu tubuh berkompromi dengan suhu alam luar tanpa bantuan baju hangat. Sehangat hentakan irama musik jazz yang dimainkan Tohpati. Seakan suhu udara sudah tidak bisa mengusik dingin tubuh ini. Suara petikan sang gitaris seakan menjadi satu dengan udara yang naik ke atas dan mengarah ke segala arah membelah angkasa seperti asap rokok yang dihisap oleh sebagian besar penduduk desa Wonotoro baik laki-laki, perempuan, dewasa dan anak-anak yang malam itu menonton di balik pagar.</p>
<p>Menonton Tohpati di JICC Jakarta atau di gedung pertunjukan manapun secara teknis permainan gitar ya akan sama saja, karena memang dia mempunyai keahlian yang prima. Tetapi hari itu kita menonton di gunung Bromo bukan di gedung yang kaku oleh beton, tidak ada uraian kata yang cukup untuk menggambarkannya. Meskipun kita tau suhu udara yang dingin tentu mempengaruhi kelenturan tangan tetapi Tohpati dan teman-teman (<strong>Indro Hardjodikoro</strong> – bass, <strong>Echa Soemantri</strong> –  drum, <strong>Diki Suwarjiki</strong> – seruling dan <strong>Endang Ramdhan</strong> – kendang) tetap bermain maksimal tanpa ada cacat yang berarti. Lagu ‘Janger’ dan beberapa lagu dari album “Save the Planet”: ‘Let the bird Sing’, ‘Perang Tanding’ dan sebagai lagu penutup ‘Bedaya Ketawang’ cukup memberikan rasa puas penonton yang penulis yakin sudah mulai kedinginan.</p>
<p>Kua Etnika menjadi penampil selanjutnya dengan penyanyi Trie Utama yang malam itu membuka pertunjukannya dengan lagu lama ‘Sinden’. Tanpa canggung  Trie Utami bernyanyi sambil menari mengikuti alunan nada yang di keluarkan oleh “kesebelasan” pemain Kua Etnika. Kemudian berturut-turut 5 lagu dibawakan grup musik pimpinan Djaduk Ferianto. Pada komposisi ‘Rising Sun’ tampil bintang tamu yang sangat istimewa (karena alat musik dan permainannya) Maya Hasan, yang bersusah-susah mengangkat Harpa berwarna merah. Ditimpali dengan cahaya obor menjadikan malam itu benar-benar menakjubkan baik dari segi musikalitas maupun seni pertunjukannya.</p>
<p>Memasuki malam hari dengan suhu rata-rata 8 derajat celcius baju hangat dan penutup kepala seakan-akan tidak mampu menahan udara dingin yang ingin bersentuhan dengan seluruh permukaan tubuh kita, tampillah seorang penyanyi jazz idaman wanita: Glen Fredly. Saat itulah suasana menikmati irama musik jazz di tengah-tengah udara dingin gunung Bromo benar-benar bisa dinikmati. Sebagai lagu pembuka yang dipilih Glen adalah ‘Kala Cinta Menggoda’ yang pernah di populerkan (alm) <strong>Chrisye</strong>. Untuk mengingatkan penonton pada Ambon yang baru saja di guncang gempa, rupanya Glen ingin mempersembahkan lagu dari daerah asalnya: ‘Ale Rasa Beta Rasa’ dan ‘Rasa Sayange’. Sebagai lagu penutup Kisah Romantis dan ‘You are my Everything’ cukup membuat pertunjukan malam itu menjadi romantis sekali. Di tengah – tengah pertunjukkannya, tidak lupa Glenn mengajak penonton berdoa bersama kesembuhan penyanyi jazzy kondang Indonesia <strong>Utha Likumahuwa</strong> yang saat ini sedang terkena serangan stroke, termasuk dengan menyanyikan lagi hits Utha yang terkenal, ‘Esok Kan Masih Ada’.</p>
<p>Satu hal yang menjadi catatan penulis bahwa ditengah maraknya industri musik yang takluk pada selera pasar dengan kualitas musikalitas yang “seadanya” masih ada seorang bapak <strong>Sigit Pramono</strong> yang berani membuat pagelaran nyeleneh tersebut, yang tahun ini memasuki tahun yang ketiga. Para penonton-pun termasuk orang-orang yang “nyeleneh” juga, karena harus jauh-jauh datang menuju gunung Bromo (dari Surabaya 130 km, dari Malang 120 km, dari Probolinggo 35 km, bahkan ada beberapa yang dari Jogjakarta, Bandung, Jakarta) ditambah pula dengan udara dingin yang menusuk kulit. Tetapi seperti tertulis diawal, bahwa mendengarkan musik jazz di atas gunung adalah suatu pengalaman yang “nyeleneh” dan akan menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan hidup ini.</p>
<p>Selamat datang lagi di Jazz Gunung 2012, insyaAllah.</p>
<p>Source: <a href="http://www.wartajazz.com/news/2011/07/12/cool-jazz-jazz-dingin/">http://www.wartajazz.com/news/2011/07/12/cool-jazz-jazz-dingin/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jazzgunung.com/cool-jazz-jazz-dingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

